Doa Berhubungan Suami Istri Agar Cepat Hamil

Kehadiran buah hati merupakan dambaan bagi setiap pasangan yang telah berumah tangga. Karena anak adalah penerus garis keturunan, termasuk mendoakan orangtuanya kelak jika telah tiada. Meski begitu, tak jarang pasangan suami istri yang tak kunjung dikaruniai seorang bayi. Berbagai upaya telah ditempuh, tapi buah hati yang dinanti belum juga menunjukkan tanda-tanda selama beberapa tahun. Kiranya dapat menerapkan doa berhubungan suami istri agar cepat hamil ini. Sekaligus menerapkan sejumlah cara berhubungan intim sesuai syariat Islam.

Hubungan intim suami istri dalam Islam disebut jimak. Terdapat beberapa doa berhubungan suami istri menurut Islam yang disunnahkan untuk dibaca, selain basmalah. Bahkan Imam Al-Ghazali pernah menyebutkan sejumlah rangkaian persiapan, yang patut dilakukan saat pasangan suami-istri hendak berhubungan. Etika ini dirangkum dari akhlak yang diajarkan Nabi Muhammad SAW (naqli) dan pendekatan akal (aqli). Simak selengkapnya mengenai doa berhubungan suami istri agar cepat hamil berikut ini.

Doa Berhubungan Suami Istri Agar Cepat Hamil

Sebagai salah satu bentuk ikhtiar dan taat kepada Allah SWT. Pasangan suami istri dapat menerapkan bacaan doa sebelum berhubungan agar cepat hamil. Sebelum berhubungan intim atau jimak, umat Islam dianjurkan minimal berdoa. Melalui doa ini, memohon lindungan Allah dari hasutan setan, gelora nafsu, serta mengharap karunia buah hati yang saleh.

1. Doa Pendek Sebelum Melakukan Hubungan

Doa ini bermakna untuk memohon agar dijauhkan dari setan yang bisa merusak hubungan suami istri, juga menjauhkan setan dari rezeki yang Allah berikan kepada setiap pasangan.

” Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna.”

2. Doa Panjang Sebelum Berhubungan

Melansir dari artikel NU Online yang berbeda, doa berhubungan suami istri ini diterangkan oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Tertuang dalam Al-Ghuniyah li Thalibi Thariqil Haqqi Azza wa Jalla fil Akhlaq wat Tashawwuf wal Adabil Islamiyah, Darul Kutub Al-Ilmiyah, tahun 1997 M/1417 H, juz I.

بِسْمِ اللهِ العِلِيِّ العَظِيْمِ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنْ قَدَّرْتَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ صُلْبِيْ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنِيْ

Bismillahil ‘aliyyil ‘azhim. Allahummaj’alhu dzurriyyatan thayyibah in qaddarta an takhruja min shulbi. Allahumma jannibnis syaithana wa jannibis syaithana ma razaqtani.

Artinya: “Dengan nama Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Tuhanku, jadikanlah ia keturunan yang baik bila Kau takdirkan ia keluar dari tulang punggungku. Tuhanku, jauhkan aku dari setan, dan jauhkan setan dari benih janin yang Kauanugerahkan padaku.”  (HR Bukhari).

3. Doa Saat Mengeluarkan Mani

Dalam ajaran Islam, selain doa sebelum memulai berhubungan intim. Ada pula bagi para suami yang telah sampai dan akhirnya mengeluarkan air mani, dianjurkan untuk membaca doa berikut:

” Allahummaj’alnuthfatna dzurriyyatan thayyibah.”

Artinya: “Ya Allah, semoga sperma yang kami keluarkan bisa menghasilkan keturunan yang baik.”

9 Etika Berhubungan Suami Istri Menurut Islam

Imam Al-Ghazali pernah menjelaskan dalam karya berjudul Al-Adab fid Din, mengenai etika berhubungan suami istri. Ulama bergelar Hujjatul Islam itu memandang berhubungan seksual bukan sekadar aktivitas rutin melepas syahwat belaka.

Menurutnya, hubungan suami istri ini merupakan kegiatan fisik sekaligus psikis. Secara kompleknya melibatkan perasaan, bahasa verbal, bahasa tubuh, serta dimensi ibadah dan medis.

آداب الجماع- طيب الرائحة ولطافة الكلمة وإظهار المودة وتقبيل الشهوة والتزام المحبة ثم التسمية وترك النظر إلى الفرج فإنه يورث العمى والستر تحت الإزار وترك استقبال القبلة

Artinya:

“Etika berhubungan badan dengan istri antara lain (1) mengenakan wangi-wangian, (2) menggunakan kata-kata yang lembut, (3) mengekspresikan kasih-mesra, (4) memberikan kecupan menggelora, (5) menunjukkan sayang senantiasa, (6) baca bismillah, (7) tidak melihat kemaluan istri karena konon menurunkan daya penglihatan, (8) mengenakan selimut atau kain (saat bercinta), dan (9) tidak menghadap kiblat,” (Lihat Imam Al-Ghazali dalam Al-Adab fid Din, Beirut, Al-Maktabah As-Sya’biyyah, halaman 175).

Amalan Saat Berhubungan Suami Istri

Masih dari lansiran yang sama, terdapat sejumlah tips bagi pasangan yang hendak melakukan hubungan intim. Buatlah kamar Anda menjadi senyaman mungkin. Anda bisa menambahkan dengan pengharum ruangan yang menyegarkan dan menenangkan. Kemudian adanya kolaborasi bahasa verbal dan bahasa tubuh. Sehingga kondisi psikis tetap terjalin baik. Amalan yang sebaiknya dilakukan sebelum berhubungan atau jimak, di antaranya:

  1. Disunnahkan untuk membaca basmillah
  2. Membaca surat Al-Ikhlash.
  3. Membaca takbir dan tahlil (Allohu akbar, Laailaha illalloh)
  4. Membaca doa
  5. Memakai penutup atau selimut.
  6. Memulai dengan cumbu-rayu dan ciuman.

Amalan Selama Jimak dan Sesudahnya

Selanjutnya masih ada amalan dalam Islam yang patut diketahui oleh pasangan suami istri. Amalan saat berhubungan atau jimak, yakni:

1. Hindari mengadap ke arah kiblat.

2. Hindari terlalu banyak pembicaraan.

3. Saat istri menjelang orgasme, suami bisa membaca doa lagi dalam hati:

“Alhamdulillahil-ladzi khalaqa minal-ma` basyara faja’alahu nasaban wa shahra wa kana rabbuka qodira.”

Artinya: “Segala puji milik Allah, yang telah menciptakan manusia dari air mani lalu jadikan manusia itu punya keturunan dan musaharah dan Dia adalah Tuhanmu Maha Kuasa.”

4. Usahakan untuk keluar bersama-sama. Pihak suami jangan terburu-buru untuk segera menuntaskan, sebelum pihak istri mencapai orgasme.

5. Jika ingin mengulangi jimak yang kedua, sebaiknya dibersihkan atau mencuci terlebih dahulu kemaluannya. Tapi bila ingin segera tidur istirahat, sebaiknya ambil wudhu dulu. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin, yang artinya:

“Dan disunnahkan memulai dengan membaca bismillah. Selanjutnya diawali dengan membaca Qul huwallahu ahad, membaca takbir, lalu membaca doa: Bismillah al-‘aliy al-‘azhim allahumma ij’alha dzurriyatan thayyibah in kunta qaddarta an tukhrija dzalika min shulbi.

Rasulullah saw bersabda, “Jika salah satu di antara kalian mendatangi istrimu maka berdoalah, Allahumma jannibnisy-syaithan wa jannibisy-syaithan ma razaqtana”.

Karena apabila (hubungan badan) di antara keduanya menghasilkan anak maka syaitan tidak akan menggangunya. Dan apabila si istri menjelang orgasme, maka bacalah dalam hatimu dan jangan gerakkan kedua bibirmu:

“Alhamdulillahil ladzi khalaqa minal-ma`i basyaran fa ja’alahu nasaban wa shahran wa kana rabbuka qadiran.”

Dan sebagian ashab al-hadits bertakbir sampai seiisi rumah mendengarnya. Kemudian berpaling dari kiblat dan tidak menghadap kiblat ketika jimak karena untuk memuliakan kiblat. Dan hendaknya (suami) menutupi dirinya dan istrinya dengan kain (tsaub).

Rasulullah SAW menutupi kepalanya dan memelankan suaranya sembari berkata kepada istrinya, tenanglah. Bila salah satu dari kalian berhubungan badan dengan istrinya maka jangan keduanya bertelanjang bulat seperti halnya dua keledai. Dan (sebelum berhubungan badan) hendaknya didahului dengan cumbu-rayu dan ciuman.

Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah salah satu di antara kalian menyetubuhi istrinya sebagaimana persetubuhan hewan, dan hendaknya di antara keduanya ada perantara. Lantas ditanyakan (kepada beliau), apa itu perantara wahai Rasulullah SAW, beliau-pun menjawab, ciuman dan cumbu-rayu.

Kemudian ketika suami mengalami orgasme maka hantarkan sang istri secara perlahan-lahan sampai ia juga mengalami orgasme.” (Abu Hamid al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, Mesir-Mushthafa al-Babi al-Halabi, 1358 H/1939 M, juz, 2, h. 51, 52)

Waktu yang Dianjurkan untuk Berhubungan atau Jimak

Penting juga untuk mengetahui anjuran dalam syariat Islam mengenai hubungan suami istri. Menurut Imam al-Ghazali, sebaiknya jimak dilakukan setiap empat hari sekali atau tergantung kebutuhan.

Sebagian ulama ada yang mensunnahkan di hari Jumat. Ada juga yang menyebut makruh berjimak di awal bulan, tengah, dan akhir bulan. Bagitu pula dimakruhkan berjimak pada awal malam. Hal ini dikemukan oleh Imam al-Ghazali dalam kitabnya, yang artinya:

“Dan sebaiknya suami mendatangi istrinya 4 hari sekali. Dan ini adalah yang paling ideal, karena jumlah maksimal perempuan (yang boleh dinikahi) itu empat. Selanjutnya boleh juga mengakhirkan sampai batas ini, bisa sebaiknya menambah atau mengurangi sesuai dengan kebutuhan istri dalam tahshin.

Dan dimakruhkan bagi suami untuk berjimak pada tiga malam dari satu bulan, yaitu pada awal bulan, akhir, dan tengah bulan. Dikatakan: Sesungguhnya syaitan akan menghadiri jimak yang dilakukan pada malam-malam ini.

Sebagian ulama ada yang mensunnahkan jimak pada hari dan malam Jumat sebagai hasil tahqiq terhadap salah satu dari dua ta’wil dari sabda Rasulullah saw: “Allah akan merahmati orang mencuci dan mandi (pada hari Jumat). Dan jika suami ingin berhubungan badan dengan istrinya untuk yang kedua kali, maka hendaknya ia mencuci kemaluannya.”

Dan dimakruhkan berjimak pada awal malam sampai ia tidak tidur kecuali dalam kondisi tidak suci, maka jika ingin tidur atau makan, hendaknya ia melakukan wudhu sebagaimana wudhu untuk sholat. Demikian ini hukumnya sunnah.” (Abu Hamid al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, Mesir-Mushthafa al-Babi al-Halabi, 1358 H/1939 M, juz, 2, h. 51, 52).