Dalam Islam, kita dianjurkan untuk senantiasa memuliakan rambut. Bahkan Nabi Saw memerintahkan dengan tegas hal ini. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Abu Daud dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

مَنْ كَانَ لَهُ شَعْرٌ فَلْيُكْرِمْهُ

Barangsiapa memiliki rambut, maka hendaknya dia memuliakannya. (H.R. Abu Dawud)

Di antara bentuk memuliakan rambut adalah meminyaki dan menyisirnya agar terlihat rapi dan baik. Nabi Saw juga senantiasa meminyaki dan menyisir rambutnya. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Al-Baihaqi dari Anas bin Malik, dia berkata;

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يُكْثِرُ دُهْنَ رَأْسِهِ وَتَسْرِيْحَ لِحْيَتِهِ وَيُكْثِرُ الْقَنَاعَ حَتَّى كَأَنَّ ثَوْبَهُ ثَوْبُ زَيَّاتٍ

Rasulullah Saw sering meminyaki rambutnya dan menyisir jenggotnya dan sering memakai tutup kepala, hingga bajunya seperti baju penjual minyak.

Dan tentu jika rambut sudah panjang dan acak-acakan, maka kita dianjurkan untuk mencukurnya. Dan setelah selesai mencukurnya, kita dianjurkan untuk membaca doa. Disebutkan dalam kitab Makarimul Akhlaq disebutkan bahwa doa setelah selesai mencukur rambut adalah sebagai berikut;

اَللَّهُمَّ زَيِّنِيْ بِالتُّقَى وَجَنِّبْنِيْ الرَّدَى وَجَنِّبْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ اْلمَعَاصِيْ وَجَمِيْعَ مَا تَكْرَهُ مِنِّيْ، فَإِنِّيْ لَا أَمْلِكَ لِنَفْسِيْ نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا

Allohumma zayyinii bittuqoo wa jannibnir rodaa wa jannib sya’rii wa basyarii al-ma’aashii wa jamii’a maa takrohu minnii fa innii laa amliku linafsii naf’an walaa dhorron.

Ya Allah, hiasilah aku dengan ketakwaan, dan jauhkan aku dari kehancuran, dan jauhkan rambut dan kulitku dari perbuatan maksiat serta dari semua apa yang Engkau tidak sukai dariku, sesungguhnya aku tidak memiliki pada diriku sendiri untuk mendatangkan manfaat maupun bahaya.