ALLAH Subhanahu wa ta’ala telah menciptakan segala sesuatu dengan aturan yang pasti dan ukuran tertentu. Hal ini bukan karena suatu kebetulan, tetapi memang ketetapan yang terbaik dari Allah Ta’ala.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala juga memberikan berbagai macam kepada hamba-Nya sesuai porsinya, tidak berlebihan, termasuk hal-hal yang baik. Sebab segala sesuatu yang baik apabila dilakukan secara berlebihan (ghuluw) maka dapat berujung keburukan dan tercela dalam syariat; misalnya makan, minum, tidur, mencintai seseorang, dan bekerja.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمِنْ ءَايَاتِهِ مَنَامُكُم بِالَّليْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَآؤُكُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لأَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah tidurmu di waktu malam dan siang hari serta usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS Ar Rum: 23)

Untuk mengatur porsi tidur, tidurlah di waktu yang dibutuhkan dan dibolehkan, seperti Qailulah antara waktu Zuhur ke Ashar. Qailulah atau tidur siang ternyata sunah yang diajarkan dan dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Sebagaimana sabda Nabi:

قِيلوا فإن الشياطين لا تَقيل

“Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR Abu Nu’aim)

Selain waktu-waktu yang telah dijelaskan tersebut, maka janganlah tidur. Alangkah baiknya mencari aktivitas lain yang lebih bermanfaat. Sebagian masyarakat saat ini memahami rebahan itu sebagai waktu luang untuk istirahat, atau sekadar bersantai dengan tidur-tiduran, atau juga berkeinginan tidur dan tidak ingin beranjak dari tempat tidur.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidur dalam jumlah wajar, tidak pernah tidur berlebihan hingga melampaui batas kebutuhan tubuh. Meski demikian, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak memaksa diri tetap bangun jika merasa lelah. Beliau beristirahat sesuai kebutuhan.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengibaratkan iman sebagai perhiasan terindah. Dalam hadis sahih lainnya, Rasulullah pernah mengucapkan doa berikut:

اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ

“Ya Allah, hiasilah (diri) kami dengan perhiasan (keindahan) iman, serta jadikanlah kami sebagai orang-orang yang (selalu) mendapat petunjuk (dari-Mu) dan memberi petnjuk (kepada orang lain).”

Wallahu a’lam .